My Blog

Share dan Care Kami Berdua, Ikang Fawzi & Marissa Haque

Share dan Care Kami Berdua, Ikang Fawzi & Marissa Haque
Kami Ingin Selamanya, Satu Suami Satu Istri Sampai Mati (Ikang Fawzi & Marissa Haque)

Bahasa Kasih Ikang Fawzi untuk Marissa Haque Istrinya

Bahasa Kasih Ikang Fawzi untuk Marissa Haque Istrinya
Bahasa Kasih Ikang Fawzi untuk Marissa Haque Istrinya

Dipeluk Sayang oleh Ikang Fawzi Suamiku

Dipeluk Sayang oleh Ikang Fawzi Suamiku
Ingin Selalu Dekat dengan Jantung Hati Suamiku Ikang Fawzi: Marissa Haque

Untuk My Love Ikang Fawzi

Untuk My Love Ikang Fawzi
Ungkapkan I Love You, Ikang Fawzi dan Marissa Haque, Tebet Timur

Bella Fawzi & Chikita Fawzi

Bella Fawzi & Chikita Fawzi
Bella Fawzi & Chikita Fawzi Pasukan Pendoa Setia Suamiku Ikang Fawzi: Marissa Haque

Intelektual Indonesia Bung Hatta

Intelektual Indonesia Bung Hatta
Bung Hatta Idola Ikang Fawzi & Marissa Haque

My Beloved & Handsome Husband Ikang Fawzi (Ahmad Zulfikar Fawzi)

My Beloved & Handsome Husband Ikang Fawzi (Ahmad Zulfikar Fawzi)
Handsome Ikang Fawzi at the Pelangi Bintaro No. 9, Jl WR Supratman, Banten
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2010

Tasawuf dalam Keputusan Hidup Ikang & Marissa

TASAWUF

Oleh : Annemarie Schimmel dalam Ikang Fawzi & Marissa Haque

DALAM pemahaman berbagai agama, nama seseorang mempunyai suatu kekuatan yang istimewa. Nama merupakan petunjuk, perlambang, simbol, representasi dari sebuah hasrat adiluhung yang dengan cara misterius mempengaruhi orang-orang yang diberi nama. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa kaum Muslim beranggapan bahwa nama Nabi mengandung suatu berkah yang sangat istimewa.

Muhammad dan Ahmad
Hassan bin Tsabit, penyair Nabi, dalam salah satu syairnya menunjukkan hubungan antara nama Muhammad dan mahmud, salah satu nama Allah. Muhammad adalah bentuk pasif-partisip dari bentuk kedua kata kerja hamada “memuji, menyanjung,” dan mengandung arti “(dia yang) patut dipuji, (orang yang) sering disanjung.” Mahmud adalah bentuk pasif-partisip dari bentuk pertama dari akar kata kerja yang sama, “(dia yang) dipuji, kepada siapa pujian ditujukan.” Karena surat pertama dalam al-Quran dimulai dengan Al-Hamdu lillah, “Segala puji bagi Allah”, maka Allah adalah “Yang patut dipuji,” yaitu mahmud par excellence. Al-Darimi, pengumpul hadis abad kesembilan, menjelaskan bahwa Nabi bernama Muhammad dan Ahmad. Umatnya adalah umat terpuji (hamd) yang ritus shalatnya dimulai dengan pujian (hamd).

Di antara nama-nama itu, Ahmad telah mendapatkan makna khusus dalam teologi Islam. Surat 61:5 menyatakan bahwa Allah akan “mengutus seorang nabi dengan nama Ahmad,” atau “yang namanya sangat patut dipuji.” Kalimat ini dianggap oleh kaum Muslim sebagai acuan kepada Paraclete yang kehadirannya telah diramalkan dalam Kitab Injil Yahya. Dengan penafsiran semacam itu, Ahmad menjadi diterima secara umum sebagai nama Nabi dalam Kitab Taurat dan Injil. Dalam Mastnawi-nya, Rumi mengatakan bahwa beberapa orang Kristen kuno suka mencium nama Ahmad dalam Injil.

Di samping nama-nama yang disebutkan oleh Nabi sendiri, kaum Muslim mengembangkan berbagai nama untuknya yang mereka katakan berasal dari al-Quran atau hadis. Tetapi bahkan sembilan puluh sembilan nama tampaknya tidaklah cukup bagi Nabi. Segera saja dua ratus nama dikemukakan satu demi satu, selanjutnya bahkan seribu nama. Kepercayaan umum menyatakan bahwa Nabi dipanggil dengan nama tertentu oleh setiap jenis makhluk. Para penyair juga tak henti-hentinya menemukan nama-nama baru bagi Nabi tercinta. Rangkaian julukan yang indah-indah ini, yang dikemukakan dengan sangat mencolok segera dikenal di mana-mana. Selanjutnya atribut-atribut Nabi sering digunakan sebagai nama-nama panggilan, baik secara sendiri-sendiri, atau dengan digabungkan.

Nama Nabi untuk Kelahiran Anak Laki-laki
Karena nama Muhammad mengandung berkah yang sangat kuat, setiap anak lelaki harus diberi nama itu, atau paling tidak salah kata jadiannya atau padanannya. Imam Ja’far al-Shadiq, Imam Keenam Syi’ah, menyatakan bahwa Allah akan menyeru pada Hari Kiamat: “Setiap orang yang bernama Muhammad hendaklah bangkit dan masuk surga!”

Tetapi penggunaan nama untuk setiap anak laki-laki juga mengandung aspek lain. Dikhawatirkan sejak tahun-tahun pertama Islam bahwa nama Nabi mungkin akan menjadi ternoda karena terus-menerus dipakai di kalangan orang beriman. Tentu saja, kaum Muslim juga memanggil anak-anak mereka dengan nama-nama dari para nabi terdahulu, seperti Musa, Sulaiman, atau ‘Isa. Tetapi, tidakkah menyakitkan hati jika kita mendengar para orangtua mencela putra mereka Muhammad, mengata-ngatainya, atau jika ada orang yang bernama Muhammad dinyatakan sebagai penipu atau pezina?

Satu cara untuk mengatasi kesulitan itu adalah dengan menambahkan satu kata penghormatan jika menyebunama Nabi, seperti misalnya sayyidina. Cara lainnya adalah dengan vokalisasi yang berbeda jika digunakan untuk manusia biasa. Orang juga mungkin memendekkan nama itu. Dengan demikian, kita tidak perlu takut menodai nama Nabi yang mulia.
Berikut ini adalah nama-nama mulia Muhammad saw:
• ‘Abduhu, Hamba-Nya (surat 17:1, 53:10)
• ‘Abdullâh, Hamba Allah
• ‘Âdil, Yang Adil
• ‘Âqib, Yang Mengikuti, Yang Terakhir
• Abthahî, Milik al-Bathha (daerah di seputar Makkah)
• Ahmad (surat 61:6)
• Âkhir, Terakhir. Juga sebuah nama Allah
• Amîn, Yang Terpercaya (surat 26:107, 81:21)
• Amîr, Pangeran, Pemimpin
• Aulâ’, Yang Lebih Patut, Yang Lebih Baik (surat 33:6)
• Awwal, Pertama. Juga sebuah nama Allah
• Azîz, Yang Mulia (surat 9:128). Juga sebuah nama Allah
• Basyîr, Pembawa Kabar-kabar Baik (surat 7:88)
• Bâthin, Yang Batin. Juga sebuah nama Allah
• Dâ’î, Penyeru (surat 33:46)
• Fâtih, Yang Membuka, Yang Menaklukkan
• Habîb Allâh, Sahabat Tercinta Allah
• Hâdî, Yang Memandu ke Kebenaran (surat 13:7)
• Hafî, Yang Tahu (surat 7:187)
• Hâfizh, Yang Menjaga. Juga sebuah nama Allah
• Hakîm, Yang Arif, Bijaksana. Juga sebuah nama Allah
• Hamid, Yang Memuji
• Hâ-mîm (permulaan surat 40:46)
• Haqq, Kebenaran (surat 3:86)
• Hârîsh ‘alaikum, Penuh Perhatian terhadap Anda (surat 9:128)
• Hasîb, Yang Mulia. Juga sebuah nama Allah
• Hâsyimî, Dari Keluarga HASyim
• Hâsyir, Yang Mengumpulkan Manusia (pada Hari Kiamat)
• Hijâzî, Dari Hijaz
• Jawwâd, Yang Pemurah
• Kalîm Allâh, Dia yang kepadanya Allah Berfirman (biasanya nama kehormatan Musa)
• Kâmil, Yang Sempurna
• Karîm, Yang Pemurah (surat 81:19). Juga sebuah nama Allah
• Khalîl, Sahabat Baik (biasanya nama kehormatan Ibrahim)
• Khâtam al-Anbiyâ’, Penutup Para Nabi (surat 33:40)
• Khâtim, Penutup (surat 33:40)
• Ma’lûm, Termasyhur
• Ma’mûn, Tepercaya
• Mad’û, Yang Diseru
• Mahdî, Yang Terbimbing Baik
• Mâhî, Yang Menghapus (kedurhakaan)
• Mahmûd, Yang Terpuji
• Manshûr, Yang Ditolong (oleh Allah), Yang Berjaya
• Masyhûd, Yang Tersaksikan
• Matîn, Yang Kukuh
• Mishbâh, Dian, Lampu (surat 24:35)
• Mubasysyir, Pembawa Kabar Baik (surat 33:45)
• Mubîn, Jelas, Nyata (surat 15:89)
• Mudatstsir, Yang Berselimut (surat 73:1)
• Mudharî, Dari Suku Mudhar
• Mudzakkir, Yang Mengingatkan
• Muhammad (surat 3:144, 33:40, 47:2, 48:29)
• Muharram, Yang Terlarang, Suci
• Mujîb, Yang Menjawab. Juga sebuah nama Allah
• Mujtabâ, Yang Terpilih
• Mukarram, Yang Mulia
• Munîr, Bercahaya (surat 33:46)
• Munjî, Yang Menyelamatkan, Yang Menyampaikan
• Muqtashid, Mengambil sebuah Jalan Tengah (surat 35:32)
• Murtadhâ, Yang Diridhai
• Mushaddiq, Yang Menyatakan Kebenaran (surat 2:101)
• Mushthafâ, Yang Terpilih
• Mutha’, Yang Ditaati (81:21)
• Muthahhar, Suci
• Muthî’, Taat
• Muzammil, Yang Terbungkus (surat 74:1)
• Nabî al-Rahmah, Nabinya Rahmat
• Nabî al-Tawbah, Nabinya Tobat
• Nabî, Nabi (banyak terdapat dalam al-Quran)
• Nadzîr, Pemberi Peringatan (surat 33:45 dan sering)
• Najî Allâh, Sahabat Karib Allah (biasanya nama kehormatan Musa)
• Nâjî, Keselamatan
• Nâshir, Yang Menolong. Juga sebuah nama Allah
• Qarîb, Dekat. Juga sebuah nama Allah
• Qâsim, Yang Membagi (sebenarnya Abû’l Qâsim, ayah Qasim yang merupakan kunyah/julukan atau panggilan yang lazim untuk Nabi)
• Qawî, Kuat. Juga sebuah nama Allah
• Quraisyî, Dari Suku Quraisy
• Ra’ûf, Lembut (surat 9:128). Juga sebuah nama Allah
• Rahîm, Penyayang (surat 9:128). Juga sebuah nama Allah
• Rasûl al-Malâhim, Rasulnya Pertempuran-pertempuran Hari-hari Terakhir
• Rasûl al-Rahmah, Rasulnya Rahmat
• Rasûl, Rasul, Utusan (banyak terdapat dalam al-Quran)
• Rasyîd, Yang Terbimbing (surat 11:78)
• Sayyid, Tuan (surat 3:39)
• Shâdiq, Yang Lurus, Tulus, Suci (surat 19:54), digunakan untuk Isma’il
• Shafî Allâh, Sahabat Tulus Allah (biasanya nama kehormatan Adam)
• Sirâj, Dian, Lampu (surat 33:46)
• Syâfi, Yang Menyembuhkan
• Syâhid, Saksi (surat 33:45)
• Syahîd, Yang Menyaksikan, Saksi. Juga sebuah nama Allah
• Syahîr, Termasyhur
• Syakûr, Yang Banyak Bersyukur. Juga sebuah nama Allah
• Thâhâ (surat 20:1)
• Thâsîn (surat 27:1)
• Thayyib, Yang Baik
• Tihâmî, Dari Tihama
• Ummî, Buta Huruf (surat 21:107)
• Walî, Sahabat, Yaitu Menolong, Yang Berbuat Kebaikan. Juga sebuah nama Allah
• Yâ Sîn (surat 36:1)
• Yatîm, Yatim (surat 93:6)
• Zhâhir, Yang Lahir, Eksternal. Juga sebuah nama Allah.

(Annemarie Schimmel)











Wallahu a'lam bishshawab.
Terima kasih, Semoga Bermanfaat

Jumat, 26 Maret 2010

Cinta Ceria Kami Saat Berpacaran Dulu: Ikang Fawzi & Marissa Haque

Cinta itu identik dengan bahagia serta canda-tawa. Keceriaan cinta kami seringkali tertangkap oleh lensa teman-teman media saat era 1980-an dulu. Kami menyukai dan menghargai ekspresi kami yang mereka abadikan didalam media dimana mereka bekerja. Salah satunya yang kami tampilkan pada blog ini yang dibuat oleh seorang wartawan senior yang pernah mendapatkan ancaman dari oknum aktris film Y R dan menjadi preseden serta lesson learn bagi kami semua para yuniornya dulu.

Karena kami berdua berprinsip bilamana kita-kita tidak melakukan hal-hal negatif/macam-macam, tentunya teman-teman media juga tidak akan punya bahan untuk memberitakannya kembali kemasyarakat bukan?

Saat Ikang Fawziku Tercinta Bersedia Berhaji Bersama: Marissa Haque

oleh Lilis Sri Handayani


Salah satu pesan Rasulullah SAW, agar umatnya menggunakan masa mudanya sebelum masa tua, bagi Ikang Fawzi benar-benar membawa hikmah bagi dirinya. Bahkan, pesan tersebut mampu mengubah kehidupannya sebagai seorang rocker. Di usianya yang baru 33 tahun, pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 tersebut, pada saat popularitasnya tengah naik ”terpaksa” menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

”Ketika itu, belum ada niatan sedikit pun untuk berhaji, tapi saya terpaksa berangkat ke Tanah Suci,”” kata Ikang.

Ketika itu, cerita musisi yang memiliki nama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi tersebut, dirinya tengah menikmati masa keemasan sebagai seorang rocker. Dalam usianya yang baru menginjak 33 tahun, tidak hanya popularitas yang diperolehnya, tetapi juga berbagai penghargaan serta materi yang berlimpah. Sementara itu, ketaatan menjalankan ibadah masih jauh dari kehidupannya.
Beruntunglah Ikang memiliki seorang istri seperti Marissa Haque. Perempuan yang telah memberikan dua orang putri itu terus membujuknya agar mau menunaikan ibadah haji. Marissa yang pernah menjalankan umrah sendirian ke Tanah Suci tersebut terus mendesaknya, sampai akhirnya meluluhkan hati sang rocker.
””Meski dengan setengah hati, sebagai suami saya merasa berkewajiban mendampingi istri menunaikan haji. Jadi, niat awal saya berangkat haji karena terpaksa menemani istri. Sedangkan saya sendiri secara mental masih belum siap,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai wakil ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) bidang Pemukiman pada era 1990-an tersebut.

Keputusan yang diambil Ikang, tampaknya memicu munculnya banyak godaan. Ketika rencana berhaji itu diketahui teman-temannya, berbagai komentar miring pun mampir ke telinganya. Komentar-komentar itu membuat dirinya semakin ragu mengikuti ajakan istrinya. ”Ngapain naik haji saat umur masih muda? Ntar aja kalau sudah tua, sekalian tobat,” kata Ikang menirukan ucapan teman-temannya.

Namun demikian, meski banyak suara miring diarahkan padanya, jika Allah sudah berkehendak, apa pun pastilah terjadi. Meski dengan hati penuh keraguan dan persiapan yang minim, Ikang ternyata tetap ditakdirkan untuk menjadi tamu Allah. Di luar dugaan, Ikang yang tidak tekun mengikuti manasik haji, bahkan tak hafal kalimat talbiyah, didaulat rekan-rekan sesama rombongannya untuk memimpin membaca kalimat tersebut. ””Permintaan para jamaah itu ternyata merupakan jalan dari Allah agar saya lebih mantap dalam menunaikan haji.””

Dengan bantuan sang istri, Ikang pun akhirnya bisa melafalkan kalimat itu dengan suara lantang khas seorang rocker. Dia pun mengaku merasakan getaran di dalam dadanya, tatkala kalimat talbiyah itu berulang kali meluncur dari mulutnya.

”Saya sadar, semua harta, penghargaan, dan popularitas yang saya banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah,” tutur Ikang.

Ikang pun langsung bersujud sambil menangis ketika pertama menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Di tempat itu, dirinya seolah menyaksikan gambaran perjalanan hidup yang selama ini dijalaninya kurang baik. ”Saya menangis sejadinya-jadinya dan memasrahkan semuanya pada Allah. Bahkan, kalau Allah mencabut nyawa saya saat itu juga, saya ikhlas,” kata Ikang.

Ikang kemudian bertekad menggunakan semua waktunya selama di Tanah Suci untuk memperbanyak ibadah. Bahkan, dia mengaku jarang tidur. Semua amalan yang wajib dan sunah, dikerjakannya dengan tekun. Saat itulah, dirinya mengaku sangat beruntung bisa menunaikan ibadah haji ketika usia masih muda.

”Menunaikan ibadah haji di usia muda banyak sekali manfaatnya, fisik kita masih kuat, ini sangat menunjang untuk memperbanyak ibadah. Apalagi, selama menjalankan ibadah, adu fisik dengan jamaah dari negara lain yang berpostur tubuh besar tidak bisa dihindari,” kata Ikang menambahkan.

Hikmah berhaji di usia muda tak hanya dirasakan Ikang selama berada di Tanah Suci. Setelah kembali ke Tanah Air, perubahan untuk menjadi Muslim yang lebih taat pun dijalaninya. Meski secara bertahap, berbagai kebiasaan negatif yang acapkali dilakukannya, seperti mengonsumsi minuman keras, bisa ditinggalkan.

Tak hanya itu, Ikang juga mengaku lebih bisa bersabar dalam menghadapi apa pun. Padahal, pelantun lagu Preman itu biasa menghadapi kekerasan yang dialaminya dengan kekerasan pula. Namun, berbagai peristiwa yang dialaminya selama berhaji, mampu mempertebal kesabaran dalam dirinya. ”Saya merasa menjadi ”orang lain” setelah pulang haji. Saya jadi berpikir, kalau dulu saya tidak berhaji saat masih muda, mungkin sekarang saya jadi orang yang lupa diri,”ungkap Ikang.

ed :m as”adi/yto

Entri Populer